KASIH ANAK SEPANJANG JALAN

Di stasiun kereta api bawah tanah Tokyo, aku merapatkan mantel wol tebalku erat-erat. Pukul 5 pagi di musim dingin yang hebat. Udara terasa beku mengigit. Bulan Januari adalah bulan terdingin dibanding 11 bulan lainnya. Di luar salju masih turun dengan lebat sejak kemarin. Tokyo tahun ini terselimuti salju tebal, memutihkan segenap pemandangan. Stasiun yang selalu ramai ini agak sepi karena hari masih pagi.

Aku melangkah perlahan ke arah mesin minuman. Sesaat setelah sekeping uang logam aku masukkan, sekaleng capucino hangat berpindah ke tanganku. Kopi itu sejenak menghangatkan tubuhku, tapi tak lama, karena ketika tanganku menyentuh kartu pos di saku mantel, kembali aku berdebar.

Tiga hari yang lalu kartu pos ini tiba di apartemenku. Tidak banyak beritanya, hanya sebuah pesan singkat yang dikirim adikku, “Penyakit kanker mata Ibu semakin parah, sekarang telah sadium 3 dan ingin sekali bertemu kakak. Kalau kakak tidak ingin menyesal, pulanglah!”. Aku mengeluh perlahan membuang sesal yang bertumpuk di dada. Kartu pos ini dikirim Asih setelah beberapa kali ia menelponku tapi aku tak begitu menggubris ceritanya. Mungkin ia bosan, hingga akhirnya hanya kartu ini yang dikirimnya. Dan waktu itu aku langsung memutuskan untuk pulang dan langsung menuju ke apotek ternama di Tokyo dan membeli obat kanker mata yang telah aku terima resepnya sebulan yang lalu. Obat itu hanya diperdagangkan di Jepang, mungkin karena bahan bakunya yang langka. obat itu setara dengan 2 bulan gajiku sebagai pegawai perminyakan di Jepang.

“Ah, waktu seperti bergerak lamban, aku ingin segera tiba di rumah, Tuhan, beri aku waktu, aku tak ingin menyesal” aku berucap dan tiba-tiba rinduku pada ibu tak tertahan.

Sebenarnya aku sendiri masih tak punya waktu untuk pulang. Kesibukanku bekerja di sebuah perusahaan perminyakan di kawasan Tokyo, ditambah lagi mengurus dua putra remajaku, membuat aku seperti tenggelam dalam kesibukan di negeri sakura ini. Inipun aku pulang setelah kemarin menyelesaikan sedikit urusan pekerjaan. Lagi-lagi urusan pekerjaan.

Sudah hampir sepuluh tahun aku menetap di Jepang. Tepatnya sejak aku menikah dengan Sakura Oshiro, wanita Jepang yang aku kenal di Perusahaan Minyak Petro Cina di Banjarjo, Bojonegoro. kota kelahiranku. Pada saat itu Oryza Sativa sendiri memang sedang di Bojonegoro dalam rangka menemani ayahnya yang bekerja di Petro Cina. saat itu, aku sedang menjadi assisten ayahnya dan kita saling berkenalan. Setahun setelah perkenalan itu, kami menikah.

Masih tergambar jelas dalam ingatanku wajah ibu yang menjadi murung ketika aku mengungkapkan rencana pernikahan itu. Ibu meragukan kebahagiaanku kelak menikah dengan wanita asing itu. Karena tentu saja begitu banyak perbedaan budaya yang ada diantara kami, dan tentu saja ibu sedih karena aku harus berpisah dengan keluarga untuk mengikuti Sakura Oshiro. Saat itu aku berkeras dan tak terlalu menggubris kekhawatiran ibu.

Pada akhirnya memang benar kata ibu, tidak mudah menjadi suami orang asing. Di awal pernikahan begitu banyak pengorbanan yang harus aku keluarkan dalam rangka adaptasi, demi keutuhan rumah tangga. Hampir saja biduk rumah tangga tak bisa kami pertahankan. Ketika semua hampir karam, Ibu banyak membantu kami dengan nasehat-nasehatnya. Akhirnya kami memang bisa sejalan. Oryza Sativa juga pada dasarnya baik dan penyayang.

Namun ada satu kecemasan ibu yang tak terelakkan, perpisahan. Sejak menikah aku mengikuti Oryza Sativa ke negaranya. Aku sendiri memang sangat kesepian diawal masa jauh dari keluarga, terutama ibu, tapi kesibukan mengurus rumah tangga  dan pekerjaan mengalihkan perasaanku.

Aku tersentak ketika mendengar pemberitahuan Kereta Ago Bomo Expres yang aku tunggu akan segera tiba. Waktu seperti terus memburu, sementara dingin semakin membuatku menggigil. Sesaat setelah melompat ke dalam kereta aku bernafas lega. Udara hangat dalam kereta mencairkan sedikit kedinginanku. Tidak semua kursi terisi di kereta ini dan hampir semua penumpang terlihat tidur. Setelah menemukan nomor kursi dan melonggarkan ikatan syal tebal yang melilit di leher, aku merebahkan tubuh yang penat dan berharap bisa tidur sejenak seperti mereka. Tapi ternyata tidak, kenangan masa lalu yang terputus tadi mendadak kembali berputar dalam ingatanku.

Ibu…..ya betapa kusadari kini sudah hampir empat tahun aku tak bertemu dengannya. Di tengah kesibukan, waktu terasa cepat sekali berputar. Terakhir ketika aku pulang menemani kedua putraku, Takasi Mura dan Durio Enao, liburan musim panas. Hanya dua minggu di Bojonegoro, itupun aku masih disibukkan dengan urusan perminyakan perusahaan tempat aku bekerja. Selama ini aku pikir ibu cukup bahagia dengan uang kirimanku yang teratur setiap bulan. Selama ini aku pikir materi cukup untuk menggantikan semuanya. Mendadak mataku terasa panas, ada perih yang menyesakkan dadaku. “Aku pulang bu, maafkan keteledoranku selama ini” bisikku perlahan.

Cahaya matahari pagi meremang. Kereta api yang melesat cepat seperti peluru ini masih terasa lamban untukku. Betapa masih jauh jarak yang terbentang, Tokyo dan Bojonegoro. Aku menatap ke luar. Salju yang masih saja turun menghalangi pandanganku. Tumpukan salju memutihkan segenap penjuru. Tiba-tiba aku teringat Takasi Mura putra sulungku yang duduk di bangku SMA kelas dua. Bisa dikatakan ia tak berbeda dengan remaja lainnya di Jepang ini. Meski tak terjerumus sepenuhnya pada kehidupan bebas remaja kota besar, tapi Takasi Mura sangat ekspresif dan semaunya. Tak jarang kami berbeda pendapat tentang banyak hal, tentang norma-norma pergaulan atau bagaimana sopan santun terhadap orang tua.

Aku sering memarahinya kalau Takasi Mura pergi lama dengan teman-temannya tanpa idzin padaku atau pada ibunya. Karena aku dibuat menderita dan gelisah tak karuan dibuatnya. Terus terang kehidupan remaja Jepang yang kian bebas membuatku khawatir sekali. Tapi menurut Takasi Mura hal itu biasa, pamit atau selalu lapor padaku dimana dia berada, menurutnya membuat ia stres saja. Ia ingin aku mempercayainya dan memberikan kebebasan padanya. Menurutnya ia akan menjaga diri dengan sebaik-baiknya. Untuk menghindari pertengkaran semakin hebat, aku mengalah meski akhirnya sering memendam gelisah.

Durio Enao juga begitu, sering ia tak menggubris nasehatku, asyik dengan urusan sekolah dan teman-temannya. Dia sempat bilang mungkin itu karena kesalahanku juga yang kurang menyediakan waktu buat mereka karena kesibukan bekerja. Mereka jadi seperti tidak membutuhkan orang tua. Tapi aku berdalih justru aku bekerja untuk kehidupan mereka. Namun memang dalam hati ku akui, aku kurang bisa membagi waktu antara kerja dan keluarga.

Melihat anak-anak yang cenderung semaunya, aku frustasi juga, tapi akhirnya aku alihkan dengan semakin menenggelamkan diri dalam kesibukan kerja. Aku jadi teringat masa remajaku. Betapa ku ingat kini, diantara ke lima anak ibu, hanya aku yang paling sering tidak mengikuti anjurannya. Aku menyesal. Sekarang aku bisa merasakan bagaimana perasaan ibu ketika aku mengabaikan kata-katanya, tentu sama dengan sedih yang aku rasakan ketika kedua anakku sering mengabaikanku. Sekarang aku menyadari dan menyesali semuanya. Tentu sikap kedua putraku adalah peringatan yang Allah berikan atas keteledoranku dimasa lalu.

Di luar salju semakin tebal, semakin aku tak bisa melihat pemandangan, semua menjadi kabur tersaput butiran salju yang putih. Juga semakin kabur oleh rinai air mataku. Tergambar lagi dalam benakku, saat setiap sore ibu mengingatkan aku beserta empat saudaraku kalau tidak pergi mengaji ke mushola. Ibu sendiri sangat taat beribadah. Melihat ibu khusu’ tahajud di tengah malam atau berkali-kali mengkhatamkan alqur’an adalah pemandangan biasa buatku. Ah….teringat ibu semakin tak tahan aku menanggung rindu. Entah sudah berapa kali kutengok arloji dipergelangan tangan.

Akhirnya, setelah sampai di Stasiun Yokomaho, dekat Bandara Narita. aku langsung naik Taksi menuju Bandara. Setelah menyelesaikan semua urusan boarding-pass di bandara Narita, aku harus bersabar lagi di pesawat. Tujuh jam perjalanan bukan waktu yang sebentar orang yang sedang diburu oleh waktu seperti aku. Senyum ibu seperti terus mengikutiku. Syukurlah, Window-seat, no smoking area, dan tempat duduk yang luas membuat aku sedikit bernafas lega, paling tidak untuk menutupi kegelisahanku dan untuk berdzikir menghapus sesak yang memenuhi dada. Melayang-layang di atas samudera fasifik sambil berdzikir memohon ampunan-Nya dan keselamatan membuat aku sedikit tenang. Gumpalan awan putih di luar seperti gumpalan-gumpalan rindu pada ibu.

Akhirnya pesawat mendarat dengan selamat di Bandara Juanda Surabaya tepat saat adzan magrib dikumandangkan. Setelah mengurusi bawang bawaanku aku langsung sholat Magrib disebuah Masjid dekat Banadara. Setelah sholat aku berdoa kepada Allah agar aku bisa bertemu dengan ibu untuk menghapus rasa gelisah dan rindu yang menumpuk di dadaku.

Sekitar jam tujuh aku menuju Bojonegoro dengan mengunakan jasa Bus Patas. Bojonegoro belum banyak berubah. Semuanya masih seperti dulu ketika terakhir aku meninggalkannya. Kembali ke Bojonegoro seperti kembali ke masa lalu. Kota ini memendam semua kenanganku. Melewati jalan-jalan yang dulu selalu aku lalui, seperti menarikku ke masa-masa silam itu. Kota ini telah membesarkanku, maka tak terbilang banyaknya kenangan didalamnya. Terutama kenangan-kenangan manis bersama ibu yang selalu mewarnai semua hari-hariku. Teringat itu, semakin tak sabar aku untuk bertemu ibu.

Rumah sederhana bertembok kayy itu seperti tidak lapuk dimakan waktu, rasanya masih seperti ketika aku kecil dan bermain bersama saudara-saudara dan teman-temanku, Namun ada satu yang berubah, ibu…

Wajah ibu masih teduh dan bijak seperti dulu, meski usia telah senja tapi ibu tidak terlihat tua, hanya saja ibu terbaring lemah tidak berdaya, tidak sesegar biasanya. Aku berlutut disisi pembaringannya, “Ibu…Aku datang, bu..aku juga membawa obat mujarap dari Jepang, semoga ibu lekas sembuh”, gemetar bibirku memanggilnya. Ku raih tangan ibu perlahan dan mendekapnya didadaku. Ketika kucium tangannya, butiran air mataku membasahinya. Perlahan mata ibu terbuka, walaupun ibu sudah tak bisa melihat, namum ibu masih bisa mengenaliku. lalu beliau tersenyum mengukir di wajahnya. Setelah itu entah berapa lama kami berpelukan melepas rindu. Ibu mengusap rambutku, pipinya basah oleh air mata. Dari matanya aku tahu ibu juga menyimpan derita yang sama, rindu pada anaknya yang telah sekian lama tidak berjumpa. “Maafkan Aku, Bu..” ucapku berkali-kali, betapa kini aku menyadari semua kekeliruanku selama ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s